Senang sekali akhirnya bisa sampai ketahap ini, saat dimana aku bisa menuliskan sedikit pengalamanku ketika hamil dan melahirkan.
trimester 1
Awalnya aku tidak tahu kalau ada janin yang sedang tumbuh dirahimku, sehingga aku tetap beraktivitas seperti biasa : bekerja, jalan jalan, olahraga. Bahkan olahraganya pun sedikit ekstrim ya kalau untuk ibu hamil muda (tiap pagi kpop dance diiringi lagu breathe-nya Miss A), belum lagi sempat main ke taman air dan mencoba semua permainan ektrim (seluncuran yang bikin jantung mau copot) serta beberapa kali main ke luar kota menggunakan motor. Alhamdulillahnya janinku anteng anteng aja, tapi cerita berubah saat aku tahu bahwa aku tengah hamil.
Semula aku hanya iseng menggunakan testpack karena memang ada stok yang tinggal satu satunya dan sayang jika tidak digunakan mengingat expired datenya tidak lama lagi. Namun hasilnya ternyata mengejutkan, dua garis itu muncul setelah 3 tahun 4 bulan lamanya semenjak pernikahanku. Senang tapi takut kalau kalau saja testpack itu justru keliru, akhirnya baru percaya ketika siangnya cek ke spog dan usg transvaginal. Waktu itu tanggal 1 Oktober 2013 dan hari pertama haid terakhir (hpht) 20 Agustus 2013. Spog bilang janinku sudah 1 bulan.
sayangnya aku mengalami masa yang berat, mungkin karena sudah lama sekali berharap bisa hamil, lalu pekerjaan di kantor yang sedang banyak banyaknya sehingga membuatku stress dan berdampak pada kehamilanku bahkan berat badanku turun hingga 7kg. Aku mengalami pendarahan sampai tiga kali dan harus bulak balik masuk rumah sakit, belum lagi keluhan keluhan lain seperti pusing, mual, sakit pinggang, tekanan darah rendah dan HB yang dibawah normal. Karena rasa khawatir yang terus bertambah akhirnya aku memutuskan untuk resign. Setelah resign keluhan keluhan itu hilang seketika dan alhamdulillah aku tidak pernah pendarahan lagi.
trimester 2
Pada trimester ke-2 kondisiku semakin membaik dan berat badanku naik perlahan. Aku juga mulai semangat browshing tentang gentle birth dan hypnobirthing setelah kakakku menyarankan untuk melahirkan secara gentle birth (dia lebih dulu bergabung di gbus dan banyak membaca tentang gentle birth karena ingin vbac). Aneh bisa tidak ingat dengan hal ini padahal sebelumnya sudah pernah dengar dan pernah belajar tentang hypnoacupuncture (ilmu yang terlupakan karena terlalu stress). Dimasa ini waktuku dihabiskan untuk memperkaya ilmu dan menyenangkan hati. Pergi ke toko buku, pergi keundangan, ngedate sama suami, main ke rumah temen, pokoknya apapun yang bikin seneng. Aku juga mulai sering latihan pernapasan dan relaksasi setelah membaca 3 buku tentang hypnobitrhing dan komunikasi dengan janin (Siapa bilang melahirkan itu sakit oleh bidan Yessie, hypnobirthing oleh Ibu Lanny Kuswandi dan Mencerdaskan anak sejak dalam kandungan oleh Evariny).
trimester 3
Badan sudah semakin berat tapi semakin rajin memberdayakan diri, ada 20 hal dalam to do list yang aku buat, semuanya dijadwal sesuai kebutuhan, ada yang tiap hari ada yang seminggu 2/3 kali. Dari mulai jalan jalan pagi/sore, belly dance, relaksasi, yoga, taichi sampe ngepel jongkok semuanya aku jalankan. Butuh perjuangan tapi semua itu ada hasilnya. Pada masa ini sempat kakiku bengkak, tapi aku ngga panik dan segera buka artikel bidan kita tentang kaki bengak, dari artikel itu aku tahu kalau aku tidak mengalami gejala gejala lain yang mengindikasikan preeklamsia, jadi bengkaknya itu masih dalam kategori normal dan benar saja tak lama kemudian bengkaknya hilang (dibantu dengan moxa dan akupunktur).
Lalu diusia 34w ada juga kejadian yang bikin sedikit cemas, kepala bayiku belum masuk panggul, untung saja aku tidak panik dan buka lagi artikel di bidan kita, dalam artikel itu dijelaskan ada bayi yang baru masuk panggul diusia 38 minggu bahkan ada yang baru masuk panggul saat akan dilahirkan. Aku terus berusaha agar bayiku cepat masuk panggul, durasi goyang inul dan jalan kaki diperpanjang, ngepel jongkok dan belly dance diperbanyak, sujud dan downward facing dog pose juga semakin sering tapi 8sampai usia 38 minggu bayiku belum juga masuk panggul. Tapi tetap ngga putus asa dan yakin, setiap waktu aku bicara pada bayiku "de, bergerak dengan lancar menuju jalan lahirmu ya, temukan posisi yang sempurna untuk dilahirkan dan lahirlah dengan cara yang alami, nyaman aman dan lancar". Aku juga selalu mengafirmasikan dalam pikiran bahwa anakku berada diposisi yang sempurna untuk dilahirkan dan persalinanku berjalan dengan alami, normal, aman dan lancar.
Proses persalinan
Hari itu usia kandunganku 38 minggu 3 hari, selepas shalat magrib seperti biasa aku mengaji dan membaca artinya, karena hanya tersisa beberapa halaman lagi aku sengaja memperbanyak mengaji lebih dari biasanya sehingga hari itu aku khatam, jauh hari sebelumnya aku pernah bilang pada bayiku, "de, mudah mudahan sebelum dede lahir mama bisa khatam, tapi mama ngga janji ya". Alhamdulillah malam itu khatam al quran, ngga ada pikiran apa apa kecuali happy aja karena berhasil khatam sebelum lahiran. Tapi ternyata skenario Allah emang luar biasa indah. Malemnya pas suami sama Ica (adik yang kebetulan lagi nginep) nonton Masih Dunia Lain (aneh, mereka hobi banget nonton ini) eps. Wewe gombel, ditengah tengah suasana yang menegangkan dengan suara keras aku bilang "astagfirullah!". Suami disebelahku langsung bangkit dari tidurnya, Ica pun yang lagi santai selonjoran langsung berdiri sambil nyamperin. Dengan wajah panik mereka langsung menyerbu banyak pertanyaan, "kenapa?" "ada apa?" "liat apa?" (maklum aku lumayan sering liat makhluk begituan, mungkin mereka kira aku liat penampakan wewe gombel). Dengan santai aku bilang, "kaya ada yang meletus di dalem perut". Peristiwa horor ini terjadi pada pukul 23.30.
Udah feeling ini kayanya ketuban pecah, terus aku bilang ke suami, "Pah, ketuban pecah." Dipikir pikir ini kalau ke Rumah Sakit kemungkinan besar langsung operasi sc, udah kepala bayi belum masuk panggul, ketuban pecah dini pula. Yasudahlahhh... Tapi aku etep kalem, efek hypnobirthing banget ini, dengan santai aku minta suami nyimpen beberapa bantal di bawah kaki biar posisi kaki ada diatas karena aku bisa ngerasa kalau air ketuban terus keluar dengan deras tanpa bisa ditahan, dengan posisi ini lumayan air ketuban ngga terus terusan keluar. Aku masih inget bau khas air bening keputihan itu. Bau khas yang aku suka. Lalu ku minta suami untuk menyiapkan kopi radix, mengkudu (baca: morfin alami), dan madu. Perlatan tempur untuk sumber tenaga dan isi ulang cairan. Semuanya ku habiskan dalam hitungan detik. Sementara Ica sibuk menyiapkan perbekalan untuk dibawa ke bidan karena sejak awal ngebet banget pengen lahiran di rumah atau di bidan, big no no lahiran di Rumah Sakit kecuali kepepet banget. (saking santainya saya belum beresin barang barang persiapan lahiran, alhasil mengandalkan insting Ica yang masih gadis untuk tebak tebakan barang apa aja yang kira kira perlu dibawa). Suami ikutan mgebantuin Ica beberes, aku cuma ngingetin jangan sampai lupa buat bawa gym ball biar bisa goyang inul di bidan.
Tepat tengah malem, ketuban terus keluar. Aku terus minum banyak. Masih belum kerasa mules sedikit pun. Dikeluarkanlah senjata pamungkas (baca: jarum akupunktur), aku menghypnoacupuncture diriku sendiri. Setelah diakupunktur barulah kerasa sedikit mules, terus aku bilang, "Pah, ayo kita ke bidan." Ibu Mertua yang kebetulan lagi nginep juga masih have no idea dengan apa yang terjadi, beliau masih anteng mantengin indosiar. Entah acara dangdut atau tagonian, ya seputar itulah pokoknya. Terus dengan kalemnya suamiku bilang ke bumer, "Mah, kita mau ke bidan, mau periksa..." Walaupun bilangnya mau periksa, tapi bumer pasti tahu kalau maksudnya mau ngelahirin, lah mana ada periksa ke bidan tengah malem. Bumer yang biasanya panikan tampak mencoba tenang soalnya aku dan suami udah sounding jauh jauh hari ke keluarga kalau pas nanti aku lahiran ngga boleh ada yang panik dan riweuh, semua keputusan Pokoknya gimana aku dan suami, ngga boleh ada yang ikut campur.
Jam setengah 1 dini hari kami (aku, suami, Ica, bumer, dan supir) berangkat ke bidan. Ngga lupa bawa gymball di kursi paling belakang. Diperjalanan Ica menelpon kakak dan orangtuaku, ia meningatkan semuanya untuk tidak panik tapi dia sendiri ngomongnya balelol (jadi sebenernya dia sendiri yang panik. Hihihi). Mules udah lumayan kenceng, tapi aku masih bisa bercanda dan hahahihi, mulesnya masih 10menit sekali. Jam 1 sampai di bidan, dicek masih pembukaan 1, tapi kepala bayi ada diposisi yang sempurna. Alhamdulillah, ternyata bayiku pinter dan selalu denger apa kata ibunya selama ini. Hehehehe. Disini ada beberapa bidan muda, bidan utama ngga nginep di klinik, setelah salah satu bidan memeriksa ku mereka tampak tenang dan memberiku pil perangsang. Tapi ngga aku minum, bukan apa apa takut efeknya terlalu menggila, kan udah dirangsang pake akupunktur. Ngga lama ayah dateng dan memeriksa keadaanku, aku tetep kalem dan semeringah. Ayah senyum, terus aku tanya, "mana umi?", "umi masih di rumah, aliya (adik ku yg masih bayi) ngga bisa ditinggal". Kata ayah santai. Terus ayah izin pamit pulang ke rumah dulu tapi janji akan kembali lagi bareng sama umi.
Aku masih ceria banget. Duduk di gymball sambil dipijit sama suami (endorphin massage), sesekali dipeluk suami dari belakang. Ngga lama ayah dateng lagi bareng umi, lanjut akupunktur lagi untuk kedua kalinya tapi sekarang umi yang jadi akupunkturistnya. Umi sempet cerita, kata ayah : "Amah mah mau ngelahirin teh ceria banget". Setelah selesai umi memeluk, mencium dan mendoakanku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali umi menciumku. Ini mengharukan banget, suerrr...
Jam setengah 4 dini hari, bidan memeriksaku dan katanya baru pembukaan 3 hampir 4. Jam setengah5 udah pengen ngeden, inget kata bidan yessie kalau udah ngga bisa ngeden berarti udah pembukaan lengkap. Coba untuk nahan ngeden dan tetep relax, tapi ngga bisa. Tetep ingin ngeden, masih ditahan sekuat tenaga, tapi udah yakin banget kalau ini udah pembukaan lengkap. Terus suami minta bidan untuk memeriksaku lagi, tapi ditolak katanya masih jauh ke pembukaan lengkap, apalagi anak pertama biasanya lama banget. Saya tetep maksa minta diperiksa, akhirnya dengan berat hati bidan memenuhi permintaanku dan lalu dia tampak sangat terkejut. Dalem hati, "kaget kan, apa gue bilang, udah bukaan lengkap kan! Hahahaha" (ketawa jahat). Kemudin mereka jadi rempong sendiri, sibuk dan panik sambil mengingatkanku untuk menahan diri. "Tahan dulu ya bu, jangan dulu dikeluarin sampai bidan utamanya dateng" kata salah seorang dari mereka.
Kontraksi semakin menggila, tapi masih inget untuk menyelaraskan diri (mind, soul and body) akhirnya merelakan tubuhku untuk berbuat semaunya. Trust my body pokonya, perasaan sih ngga ngeden tapi kerasa banget kalau setengah kepala bayi udah keluar, lalu datanglah bidan utama. Aku ngeden sekuat tenaga dan dengan satu Kali ngeden lahirlah malaikat kecilku jam5 tepat.
Anakku lahir tanpa tangisan, ia membuka matanya lebar, tersenyum manis sambil ngoceh lucu banget. Sampe bidannya bilang, "ini kok lahirnya sambil senyum". Pertama kali liat senyum manisnya, indah banget berasa liat surga (padahal belum pernah liat surga sih. Hehehe). Aku langsung meminta bayiku dan bilang, "mau imd". Imd berlangsung lancar dan khidmat, kami bertiga bermesraan.
Malaikat kecil kami 💞
- Alana Eve Kendias (diambil dari bahasa ibrani, skotlandia, jepang dan indonesia. Alana : damai, bahagia, sejahtera. Eve: Hawa, malam, kehidupan. Ken: Orang yang kuat, api. Dias: orang yang berilmu dan berbudi pekerti luhur, singkatan dari reDI ASyiah)
- Waktu alana masih dalam kandungan, aku dan suami pernah nanya, "nak, kamu laki laki atau perempuan, mama akan hitung dari satu sampai sepuluh, kalau kamu perempuan jangan lakukan apa apa, kalau kamu laki laki tendang perut mama, dan tidak ada reaksi apa apa, it's mean dia perempuan. Nanya yang kedua dengan metode yang beda, jawabannya tetep sama. Tapi karena aku gemes dan masih ngga percaya lantaran banyak orang bilang tanda tandanya lebih ke hamil anak laki laki jadi aku nanya terus terusan dan jawaban si kecil malah jadi ambigu 😂 Dan eng ing eng, begitu anakku lahir barulah terbukti benar kalau jawaban pertama dan kedualah yang benar. She's a girl 😘
- Alana lahir hari Sabtu, 17 Mei 2014 pukul 05.00 dengan panjang 48cm dan berat 3,04kg. Percaya atau engga, aku pernah request ke anakku untuk lahir dengan berat 3kg. Aku pernah bilang, "Nak, lahirlah dengan berat yang cukup, jangan lebih atau kurang, 3kg cukup". Dan dia mendengar apa yang aku katakan.