Siapa sih yang belum pernah denger kasus Antasari Azhar ? Ketika beliau sedang gencar-gencarnya mengurung para koruptor di Indonesia tiba-tiba ada berita yang mengagetkan. Hari itu Antasari dibawa untuk dilakukan pemeriksaan , 2 jam kemudian ditetapkan sebagai saksi, 2 jam kemudian lagi ditetapkan sebagai tersangka. Antasari meminta izin untuk pulang kerumah namun beliau tak diberikan izin dan langsung ditahan. Yang mengagetkan adalah beliau dianggap sebagai orang yang menganjucrkan kematian Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnen. Yang katanya Beliau tega membunuh korban karena terlibat cinta segitiga antara Antasari, Nasrudin dan Rani (istri Nasrudin).
Bagi masyarakat awam saja tentu bisa menilai betapa konyolnya kasus ini. Bagaimana tidak seorang ketua KPK yang telah berhasil menjerujikan banyak koruptor tega membunuh seseorang dikarenakan seorang perempuan? Antasari itu bukan orang bodoh, lagi pula setiap orang bisa melihat bagaimana Antasari sangat mencintai dan menghormati Istrinya. Beliaupun sangat mencintai anak-anaknya sehingga jika dipikir secara logika dan hati nurani tak mungkin bahwa Antasarilah pembunuhnya.
Tentu saja ada kekuatan besar yang menginginkan Antasari jatuh. Dengan besarnya fitnah yang ditujukkan padanya. Seperti wawancara ekslusif Kick Andy dengan beliau. Beliau menyatakan bahwa “ Saya tidak merasa didzalami, tapi saya memang didzalimi”. Disinilah menurut saya betapa susahnya untuk meneggakkan kebenaran di negeri ini. Ketika ada sesosok Antasari yang berani mengungkap kasus para pencuri uang rakyat tanpa pandang bulu, beliau justru harus menelan pedasnya fitnah yang diterimanya. Fitnah yang tak hanya membuatnya mendekam dipenjara tapi juga fitnah yang merusak nama baiknya.
Sampai kapanpun Antasari tidak akan pernah mengakui bahwa dialah yang membunuh Nasrudin karena memang benar bukan dia yang melakukannya. Apakah harus seseorang mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan sama sekali? Setelah beberapa lama kasus ini OFF dari media dan masyarakat karena banyaknya pengalihan pengalihan yang dibuat oleh pihak tertentu kini kasus ini kembali mencuat ke tengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, pengacara Antasari menemukan kejanggalan hakim dan membeberkannya kepada komisi yudisial. Berita ini menyita banyak perhatian rakyat Indonesia dan menggugah hasrat keingintahuan lebih dalam mengenainya.
Salah satu kejanggalan yang ditemukan adalah bahwa putusan hakim mengabaikan keterangan ahli TI yang menyatakan bahwa tidak ada pesan pendek (sms) dari Antasari kepada Nasrudin yang berisi ancaman. Selain itu hakim juga tidak mempertimbangkan barang bukti senjata yang ditunjukan dalam persidangan. Jika menurut ahli forensic senjata yang digunakan untuk membunuh Nasrudin itu senjata yang bagus yang memiliki kwalitas baik. Tapi mengapa senjata yang ditunjukan malah senjata yang macet? Disini sangat terlihat atas dasar apa hakim menjatuhi hukuman pada Antasari padahal tidak ada bukti kuat yang mendukung putusannya.
Antasari dan kuasa hukummnya saat ini telah mengajukan PK. Jika dalam banding dan kasasi Antasari tetap dinyatakan bersalah. Maka PK akan menjadi harapan terakhir yang diharapkan bisa memberikan keadilan dan menunjukkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Tapi apapun nanti hasilnya, Toh Target Antasari sudah tercapai. Target beliau hanyalah agar public bisa mengetahui bahwa beliau bukanlah pembunuh seperti yang diberitakan selama ini. Sejak lama target ini sudah tercapai, karena rakyat kita sudah melihat bahwa Antasari hanyalah korban dari kejahatan suatu kekuatan besar yang menginginkannya untuk jatuh. Dan Nasrudin adalah orang yang ternyata harus kehilangan nyawanya atas kebiadaban konspirasi ini.
Rahmah Asyiah
20 Apr 2011