Minggu, 17 April 2011

Definisi Bahagia

Definisi bahagia bagi setiap orang berbeda - beda. Ada yang mengatakan bahwa seseorang bisa dikatakan bahagia ketika hampir semua kebutuhannya terpenuhi. Tapi benarkah ada seseorang yang menang benar-benar berhasil memenuhi kebutuhannya? Jawabannya TIDAK. Karena sifat dasar manusia itu tidak pernah puas, ketika suatu kebutuhan telah bahkan belum terpenuhi akan muncul kebutuhan yang baru. Yang ternyata setelah diteliti lebih dalam hal itu bukanlah sebuah kebutuhan melainkan keinginan kita sendiri yang didasari oleh 'nafsu'.
Ada juga yang mengatakan kalau bahagia itu mempunyai teman yang banyak. definisi ini bisa benar bisa juga tidak. Seorang bijak pernah berucap, "yang terpenting itu bukanlah memiliki banyak teman, tapi memiliki seorang teman yang bisa diandalkan, yang bisa menunjukan kita jalan kebenaran". Manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan karena itu berhati-hatilah mencari teman. Karena bisa saja kita menjadi pribadi yang jelek karena terpengaruh teman, tapi bisa juga kita menjadi pribadi yang lebih baik karena bertemu dengan seorang teman.
Tapi, dari sekian banyak definisi. Kebanyakan intinya, seseorang bisa dibilang bahagia ketika seseorang itu berlimpahan materi. Saat seseorang mampu mebeli apapun yang diinginkannya. Mendapat sanjungan atas harta hartanya. Bahkan seorang teman pernah berkata,"enak ya kalau jadi anak President Director, mau apa aja bisa. Zaman sekarang kan asalkan punya uang semuanya bisa dibeli". Pernyataan orang yang pastinya materialistik. Namun benarkan begitu? Coba teliti lebih dalam. Mungkin apa saja bisa dibeli oleh seorang anak President Director di perusahaan ternama, wajahnya tersenyum karena seakan-akan dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Tapi apa kita tahu bahwa bisa saja dikamarnya yang mewah dia menangis karena kekurangan kasih sayang orangtua, atau kurangnya waktu yang dia miliki untuk bercengkrama dengan keluarga dan kesedihan saat tak ada seorang teman baik yang benar-benar tulus menerimanya sebagai seorang teman ? arti sebuah kebahagiaan terlalu murah jika disandingkan dengan keberlimpahan materi.
Seperti perkataan seorang ayah yang baik. Tak apa jika kita kekurangan materi. Asalkan jangan sampai kekurangan ilmu dan hati. Karena bukan kaya materi yang akan membuat kita bahagia. Tapi kaya akan ilmu dan hati. Materi bisa habis, hilang atau dicuri. Tapi ilmu dan hati akan abadi meski ajal telah menjemput kita. Ibaratnya, kita tak perlu mengumpukan nasi sebanyak mungkin, kita hanya perlu mengumpukan secukupnya. Toh lama-kelamaan nasi akan basi juga. Tapi kita perlu beribadah dan berbuat kebaikan sebanyak mungkin, karena tanpa itu semua kita tak akan bisa meraih Syurga-Nya.
Seseorang yang bahagia tidak akan pernah mengeluh jika Tuhan mengujinya. Seseorang yang bahagia tidak akan meninggalkan keluarga untuk pekerjaannya. Seseorang yang bahagia tidak akan menghabiskan harta utuk memenuhi hawa nafsunya. Seseorang yang bahagia itu yang mensyukuri nikmat Tuhan dengan sepenuh-penuhnya rasa syukur, Hidup dengan sederhana, harmonis rumahtangganya, serta suka berbagi kebaikan, dia senantiasa memberikan manfaat bagi sesamanya.

17 Apr 2011
Rahmah Asyiah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar